Celebrating Pluralism with Appreciative Inquiry
Penulis I: Rakhman Ardi Penulis II: Budi Setiawan Muhammad
Pendahuluan Jauh di balik dendam dan perdamaian, terhantar ingatan. Seperti sebuah lautan, Indonesia tinggal memilih cerita dari laut mana yang menyimpan manisnya masa lalu, dan cerita mana yang ingin dicampakkan. Ingatan tak pernah utuh. Masa silam tak pernah satu. Ada kenangan yang memilih damai. Ada waktu lampau yang mendorong Indonesia berseru: “Kami ingin menuntut balas.” Ada politik ingatan, ada politik melupakan. Keduanya menganggap bahwa “sejarah” adalah semacam fotokopi dari pengalaman yang telah tersimpan. Bila kita memilih cerita dan berita kelam, rasanya tercecer dan tak habis koran dan ungkapan-ungkapan lisan menguraikan. Mitos dan Narasi sejarah tentang pertentangan ras, agama, suku, dan golongan terlanjur melekat dalam tinta dan terinternalisasi dalam kepribadian. Cerita kemenangan si baik melawan si jahat yang penuh tauladan atau kisah kepahlawanan tentara Tuhan yang mampu membumi hanguskan setan dinyanyikan terus menerus sebagai pengantar tidur bocah lima tahunan menjelang mimpi lelapnya. Ada cerita rakyat tentang tragedi kurusetra sebagai ladang pembantaian atas si jahat kurawa, cerita tentang kutukan malinkundang, si kancil pencuri ketimun yang terperangkap di ladang, pembantaian 7 jenderal di jaman revolusi 65, hingga pembantaian pasca 65 atas nama dendam terhadap 1,5 juta rakyat indonesia tanpa peradilan. Memori tragedi Sampit dijadikan pajangan di layar kaca atau di panorama internet lewat penjagalan kepala manusia bak hiasan kepala sapi. Cerita Ambon berdarah, pembantaian Poso, perang suku di Papua pun dituturkan dengan dendam berkepanjangan dan saling meneriakkan nama Kebenaran.
Selengkapnya dapat dilihat di sini <<klik |